Kamis, Maret 01, 2012

Wisata Sejarah Dan Religi Mesjid Jamik Bengkulu

Mesjid Jamik ini terletak di jalan utama kota Bengkulu dan merupakan kenang-kenangan dari Bung Karno semasa pengasingannya dan juga sebagai seorang arsitek, bangunan mesjid yang masih aktif dipergunakan ini memiliki atap berbentuk Limas dan menggambarkan perkawinan budaya lokal, budaya thionghoa dan budaya islam. Mesjid ini terletak di ujung jalan soeprapto tepat di pusat keramaian kota Bengkulu.
Mesjid ini berada pada ketinggian 20 m di atas permukaan laut. Berjarak 1,2 km dari Benteng Marlborough, dengan sudut kemiringan 112o (Darmansyah 2002). Pada abad XIX bangunan masjid  berbentuk sederhana dengan bangunan berbahan kayu dan beratap rumbia. Pada awal abad ke XX masyarakat membangun masjid tersebut menjadi lebih baik dengan cara swadaya. Bagian dinding diganti dengan tembok, dan bagian atap diganti dengan seng, sekaligus memperluas masjid tersebut.
Pada tahun 1938, bangunan masjid didesain ulang oleh Bung Karno yang biaya ditanggung oleh masyarakat sendiri. Bung Karno sebagai arsitek bangunan tersebut tidak merubah secara keseluruhan, hanya bagian-bagian tertentu saja yang dirubah dan ditambah. Bagian dinding masjid ditinggikan 2 meter, dan bagian lantai ditinggikan 30 cm. Bung Karno memberikan ciri khas pada bagian atap dengan membentuk atap limasan kerucut dengan memberikan celah pada pertengahan atap sebagai sentuhan arsitektur tersendiri. Pada beberapa bagian bangunan ditambah tiang dengan ukiran dan pahatan berbentuk sulur-sulur di bagian atasnya dan dicat dengan warna emas (hajadd)

Wisata Sejarah British Cementary

Komplek pemakaman Inggris dan Belanda  ini berjarak 640 m di sebelah timur Benteng Marlborough dengan keletakan geo­grafis 03o47'37,1" LS dan 102o15'12,2" BT. Komplek makam ini berada di tengah-tengah pemukiman. Pada komplek makam ini terdpat 15 buah makam dengan bentuk makam yang berupa bangun­an monumental.
Pada beberapa bangunan terli­hat lebih dari 1 nisan, umumnya ter­dapat 2 sampai 4 nisan. Berdasarkan pembacaan terhadap nisan-nisan yang terdapat di komplek makam ini diketahui kronologi dari nisan-nisan tersebut berkisar antara tahun 1775 sampai 1940.
Dari pengamatan terhadap kronologi nisan diperkirakan komplek makam ini juga digunakan ketika Belanda menguasai Bengkulu. Hal ini terlihat dari nama dan bahasa yang terdapat pada nisan-nisan tersebut. Pada nisan-nisan yang tertua sampai awal abad XIX yang ter­cantum adalah nama-nama orang Inggris dan keterangan-keterangan lainnya ditulis dalam Bahasa Ing­gris; sedangkan pada nisan-nisan yang lebih muda nama-nama yang tercantum adalah nama-nama orang Belanda dan keterangan-keterangan lainnya ditulis dalam Bahasa Belanda. (hajadd).

Wisata Sejarah Makam Sentot Alibasyah

Sentot Alibasyah adalah seorang panglima perang pendukung Pangeran Diponegoro, pada perang Diponegoro (1825-1830). Setelah kekalahan Pangeran Diponegoro, Sentot dan para pengikutnya dimanfaatkan oleh Belanda untuk memerangi kaum Paderi di Sumatera Barat. Karena dianggap bersimpati terhadap perjuangan kaum Paderi, akhirnya Sentot Alibasyah dibuang hingga akhir hayatnya di Bengkulu. Makam Sentot Alibasyah berlokasi di Desa Bajak, Kecamatan Teluk Segara.
Makam ini terletak pada koordinat 03o 47l 20,7ll Lintang Selatan dan 102o 15l 48,4ll Bujur Timur. Pada masa kolonial Belanda letak makam ini berada agak di luar kota. Saat ini karena adanya perluasan kota, makam ini berada di dalam kota.
Pada makam Sentot tertulis tanggal pemakaman 17 April 1885. Makam ini berada di ketinggian 38 m diatas permukaan laut. Berjarak sekitar 1,2 km dari Benteng Marlborough dengan sudut kemiringan 94o. Bangunan cungkup makam Sentot Alibasyah bergaya bangunan “tabot” dan memiliki keistimewaan, yaitu di dalam cungkup tidak memperlihatkan adanya nisan kubur, sebagaimana biasanya kubur muslim di Indonesia.
Cungkup ini berukuran 570 x 420 cm, dan berdenah empat persegi panjang dengan pilar-pilar pada beberapa bagian cungkup. Bagian pusat (makam ) juga berdenah empat persegi panjang dengan ukuran 327 x 184 cm.

Wisata Sejarah Rumah Fatmawati Sukarno


Fatmawati adalah seorang wanita yang berasal dari Bengkulu, namanya menjadi harum karena beliau adalah salah seorang istri Ir. Sukarno President Republik Indonesia yang pertama, yang juga ibu dari Megawati Sukarno Putri. beliau pula wanita yang menjahit dan mempersiapkan Sang Saka Bendera pusaka merah putih yang berkibar di hari proklamasi 17 Agustus 1945. Beliau menjadi istri sah Ir. Sukarno saat Ir. Sukarno diasingkan di Bengkulu Tahun 1938.
Saksi sejarah tersebut berupa sebuah rumah yang terletak di Anggut Kota Bengkulu, berjarak kira-kira 600 meter dari rumah Sukarno. Di rumah terdapat bermacam koleksi antara lain foto-foto Fatmawati, pakaian, mebel dan lain-lain. (hajadd)

Monumen Parr dan Hamilton bengkulu

Monumen Parr dan Hamilton  bengkulu didirikan Pada tahun 1808 oleh Inggris, untuk memperingati Thomas Parr, dalam pembangunannya rakyat dipaksa dengan kekerasan agar pembangunannya dapat selesai dalam waktu yang telah ditentukan. Luas bangunan tugu ini seluas 70 meter persegi, tinggi 13,5 meter persis di depan kantor Pos Bengkulu. Tugu ini berdenah segi 8 dan mempunyai tiang-tiang bergaya corintian. Pintu masuk pada tugu ini terdapat di bagian depan dan sisi kanan dan kiri. Bentuk dari pintu masuk ini lengkung sempurna dan tidak mempunyai daun pintu. Pada salah satu dinding di ruang dalam tugu terdapat sebuah prasasti, tapi pada saat ini sudah tidak dapat dibaca lagi. Bagian atas tugu mempunyai atap yang berbentuk kubah. Berdasarkan lukisan Joseph C Stadler dalam buku Prints of Sotut East Asia in The India Office Library terlihat di lokasi tugu ini terdapat Gedung Pemerintahan dan Gedung Dewan EIC. Pada saat ini sisa-sisa kedua bangunan tersebut sudah tidak dapat ditemukan lagi karena lokasi tersebut sudah merupakan kawasan pertokoan dan pusat pemerintahan Dati I Bengkulu
Monumen ini dibangun untuk mengenang Thomas Parr, seorang Residen Bengkulu dari Inggris yang tewas ditikam dan kemudian dipenggal kepalanya oleh penduduk setempat pada tahun 1807 ketika ia tengah beristirahat di rumahnya. Thomas Parr diduga dibunuh oleh orang-orang Bugis yang bekerja sebagai anggota keamanan perusahaan dagang Inggris (East India Company). Thomas Parr merasa khawatir dengan perkembangan kekuatan pasukan Bugis ini dan berupaya untuk mengurangi peran mereka, namun orang Bugis merasa tidak senang hingga akhirnya ia terbunuh. Inggris membalas kematian Parr dengan menembaki sejumlah penguasa lokal yang dicurigai berada dibalik pembunuhan tersebut dan membumihanguskan desa-desa tempat tinggal mereka. (hajadd)

Telaga Puteri Tujuh Warna, objek wisata andalan bengkulu

Dari puluhan objek wisata yang ada di Provinsi Bengkulu, Telaga Puteri Tujuh Warna merupakan tempat yang paling unik sehingga dijadikan salah satu objek andalan.keunikan dari objek wisata itu yakni dari tujuh telaga yang ada warna airnya berbeda-beda, yaitu biru, merah, cokelat, hitam, putih, abu-abu, dan merah muda.
“Ketujuh telaga tersebut diberinama sesuai warnanya, yaitu Telaga Biru, Telaga Merah, Telaga Cokelat, Telaga Hitam, Telaga Putih, Telaga Abu-Abu, serta Telaga Merah Muda,” katanya.
Telaga Putri Tujuh Warna berlokasi di Desa Rimbo Pengadang, Air Dingin, perbatasan Kabupaten Rejang Lebong dengan Kabupaten Lebong. Luas lokasi Telaga Putri Tujuh Warna tersebut diperkirakan mencapai 50 hektare dengan jarak tempuh 20 km dari pusat kota Curup, ibu kota Kabupaten Rejang Lebong, atau sekitar 120 km dari Bandara Fatmawati, Kota Bengkulu.
Untuk mencapai lokasi, para wisatawan harus menempuh dengan berjalan kaki melalui jalan setapak lebih kurang dua jam perjalanan. Objek wisata tersebut selama ini belum terpublikasikan serta belum ada pengelolaan, padahal sangat bagus dan memiliki kekhasan yakni memiliki air tujuh warna.
Sepanjang jalan menuju lokasi bisa di jumpai ladang ladang penduduk, hutan hujan tropis yang menghijau, dan bukit bukit barisan yang berbaris terhampar jauh, sudut pemandangan alam yang masih bisa di nikmati di kawasan Rimbo Pengadang. Menghirup udara yang segar bebas polusi serta menikmati keasrian flora dan fauna lokal tanah Rejang. Dalam perjalanan berjalan kaki, gemercik aliran air yang bening bisa di temui sebagai mata air kecil yang mengalir di sekitar jalan menuju lokasi, lumayan buat obat penghilang lelah saat berjalan kaki, apalagi membasuh muka akan terasa menyegarkan badan yang penuh keringat karena berjalan kaki.
Telaga terdiri dari telaga besar yang berdiameter sekitar 50m yang berwarna : Biru, merah, putih, dan keabuan
Dan telaga kecil yang berada di sekitar telaga besar yang berwarna : kuning, coklat, dan hitam
Bilai kita tiba dilokasi yang pertama kita saksikan adalah telaga biru. Telaga biru merupakan kolam alam sumber air panas (hot spring) yang cukup besar, berdiameter sekitar 10 m, beserta beberapa kolam kecil di sekitarnya.Sekitar telaga Biru akan di jumpai sekumpulan telaga kecil (kolam alami) yang berwarna kuning, hitam dan coklat. 

Telaga warna kuning

Telaga warna hitam

Warna kecoklatan ditelaga kecil dekat telaga biru
Dari telaga biru kita baru akan menemukan dengan berjalan kaki sekitar 200 meter untuk menemukan lokasi telaga merah. Diperjalanan menuju telaga merah ini kita bisa menemukan sungai kecil warna merah, flora hutan selain pepohonan juga di dominasi paku-pakuan dan pandan-pandanan, serta vegetasi lumut yang banyak terdapat di hutan basah tropis.

Telaga merah
Selanjutnya, berjarak sekitar 500 meter dari telaga merah (cukup jauh juga buat berjalan kaki) kita akan menemukan telaga abu – abu. Perjalanan menuju telaga kecil ini mesti hati hati karena menuruni tebing. Telaga abu – abu ini hanya berdiameter sekitar 4 meter.

Telaga abu abu
Berjalan kaki sejauh 500 meter lagi, kita akan menemukan telaga utama(paling besar) yaitu telaga putih, dengan lebar sekitar 50 meter dan panjang 100 meter. Dari sini kita bisa melihat langit dengan leluasa, karena di perjalan sebelumnya langit tertutup oleh lebatnya daun pepohonan.

telaga putih
Asal nama telaga Puteri Tujuh Warna Konon di telaga terbesar yaitu telaga yang berwarna putih dilarang untuk menyebutkan kata puteri, di percaya bila menyebut kata puteri maka semburan mata air besar di tengah danau akan semakin besar, oleh karena itu di beri nama telaga Puteri Tujuh Warna.(hajadd)

Curug (air terjun) Sembilan Tingkat, Bengkulu

Ada banyak tempat wisata alam dibengkulu yang ini juga tidak kalah menariknya, Curug (air terjun) Sembilan Tingkat masih menjadi salah satu obyek wisata andalan Kabupaten Bengkulu Utara, provinsi Bengkulu yang banyak dikunjungi wisatawan baik domestik maupun asing. Obyek wisata itu menjadi salah satu favorit para wisatawan yang berkunjung ke Bengkulu, karena unik dan memiliki kekhasan. Dari namanya saja air terjun ini memiliki keunikan air terjun yang memiliki sembilan tingkat yang mana tiap tingkatnya membentuk air terjun sendiri ini lah yang menjadi kehasan dan keunikan dari air terjun iniyang tak dimiliki oleh air terjun lain
Air Terjun Curug sembilan tingkat, terletak di dalam kawasan hutan lindung yang alami, sangat cocok dikunjungi para wisatawan pencinta alam dan senang petualangan di alam bebas. Di dalam kawasan hutan sekitar air terjun itu, kata dia, banyak terdapat flora dan fauna langka.
Objek wisata ini berada di Desa Padang Jaya, dengan jarak tempuh sekitar 120 Km dari Bandara Fatmawati, Kota Bengkulu. Dimana transportasinya juga cukup gampang Untuk menuju ke lokasi itu, sudah dibangun jalan yang dapat dilalui kendaraan roda empat. Bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam di sekitarnya (hajadd)

Sumber air panas suban

Sumber air panas suban merupakan salah satu objek wisata alam yang ada di bengkulu, pemandian yang berasal dati sumber mata air panas bumi menjadi salah satu lokasi favorit untuk rekreasi keluarga. Suasana tempat pemandian air panas yang nyaman, kolam renang yang bersih dan mengandung unsur penyembuhan menyebabkan tempat ini terkenal dan ramai dikunjungi wisatawan.
Selain pemandian air panaas di kawasan ini juga terdapat dua buah air terjun yang mengalir dari bukit dengan ketinggian masing-masing 75 meter dan 50 meter. Air terjun ini juga merupakan sumber air alam pegunungan yang sejuk dan jernih serta sehat untuk mandi. Tak jauh dari lokasi tersebut juga terdapat perkebunan strawberi milik masyarakat setempat dan obyek wisata Danau Mas Harun Bestari yang memberikan layanan wisata keliling danau menggunakan perahu dan motor boat.
Suhu air yang pantas serta komposisi mineral dan unsur hara yang unik menjadikan sumber mata air geotermal ini sebagai tempat untuk melakukan terapi dan penyembuhan berbagai penyakit oleh masyarakat. Tempat ini begitu populer bagi masyarakat Bengkulu dan Sumatera Selatan dan menjadi sangat penting untuk dikunjungi.
 Lokasi ini mudah dijangkau dan hanya 15 menit perjalanan atau enam kilometer dari kota Curup dan 1,5 jam perjalanan dengan kendaraan roda empat atau sekitar 90 Km dari Bandara Fatmawati Kota Bengkulu dimana sepanjang perjalanan kita akan disugukan pemandangan alam yang indah sehingga perjalan ke pemandian ini terasa menyenangkan.Oleh karenanya jangan sampai terlewatkan. (hajadd)